OPINI PENDIDIKAN ISLAMEvaluasi Sekadar Formalitas? Saatnya Lembaga Islam Berbenah Total!

Bogor, Januari 2026 — [ Suluhnusantara. News ] Di balik megahnya visi mencetak generasi berakhlak mulia, banyak lembaga pendidikan Islam justru masih berjalan tanpa “kompas” yang jelas. Perencanaan boleh saja rapi di atas kertas, tapi tanpa evaluasi dan pengawasan yang kuat, semuanya bisa melenceng jauh dari tujuan.

Inilah sorotan tajam yang diangkat oleh lima mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan Islam Institut Agama Islam Bogor (IAIB): Sopiyanto, Siti Suhelma, Abdul Ajis, Suhara Iskandar, dan Azwar Anas. Mereka menilai, sistem evaluasi di banyak lembaga pendidikan Islam masih jauh dari ideal bahkan cenderung sekadar formalitas.

Terjebak Rutinitas, Kehilangan Esensi

Realita di lapangan cukup memprihatinkan. Evaluasi masih identik dengan ujian semester dan angka rapor. Sementara pengawasan sering dianggap momok yang menakutkan bagi guru bukan sebagai ruang pembinaan.

Padahal, menurut para penulis, evaluasi dan pengawasan adalah “kaca benggala” yang seharusnya memantulkan kondisi nyata lembaga. Tanpa itu, arah pendidikan bisa kabur, bahkan kehilangan ruhnya.

“Banyak lembaga hanya meniru sistem pendidikan umum tanpa adaptasi nilai Islam. Ini yang membuat pendidikan Islam kehilangan kekhasannya,” ungkap mereka.

Bukan Sekadar Nilai, Tapi Akhlak dan Spiritual

Pendidikan Islam tidak hanya soal kecerdasan intelektual. Lebih dari itu, ia memikul misi besar: membentuk insan kamil manusia yang utuh secara ilmu, iman, dan akhlak.

Namun ironisnya, aspek spiritual dan karakter justru sering luput dari penilaian. Tidak banyak instrumen yang mampu mengukur kedisiplinan ibadah, kejujuran, atau kepedulian sosial siswa.

“Evaluasi harus bersifat kaffah menyentuh kognitif, afektif, hingga ruhiyah,” tegas mereka.

Pengawasan Bukan Menghakimi, Tapi Membina

Paradigma lama juga masih melekat: pengawasan sebagai ajang mencari kesalahan. Padahal dalam nilai Islam, pengawasan adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar mengajak pada kebaikan, bukan menakut-nakuti.

Pengawas idealnya berperan sebagai coach, bukan “polisi”. Pendekatan humanis dan kolaboratif justru terbukti lebih efektif meningkatkan kualitas guru dan pembelajaran.

Tiga Masalah Besar yang Menghambat

Para penulis memetakan tiga kendala utama yang membuat sistem ini sulit berubah:

Minimnya kompetensi SDM dalam merancang evaluasi berbasis nilai Islam

Dominasi pendekatan administratif yang kaku dan birokratis

Ketiadaan instrumen khusus untuk mengukur akhlak dan spiritualitas

Akibatnya? Evaluasi hanya jadi tumpukan dokumen. Pengawasan pun kehilangan makna.

Solusi: Dari Seremonial ke Transformasional

Untuk keluar dari lingkaran masalah ini, mereka menawarkan langkah konkret:

Komitmen pimpinan sebagai motor perubahan

Instrumen evaluasi holistik yang menilai akhlak dan spiritual

Pengawasan berbasis coaching, bukan inspeksi

Pemanfaatan teknologi untuk monitoring berbasis data

Siklus evaluasi berkelanjutan (Plan–Do–Check–Act)

Langkah ini bukan sekadar teori, tapi kebutuhan mendesak jika pendidikan Islam ingin tetap relevan di era modern.

Saatnya Berani Berubah

Pesan mereka jelas dan tegas: sudah saatnya meninggalkan evaluasi seremonial. Sistem harus bertransformasi menjadi alat perbaikan nyata.

Mutu pendidikan Islam tidak lahir dari semangat semata, tapi dari sistem yang jujur, adil, dan konsisten dijalankan.

Jika evaluasi dilakukan dengan benar, dan pengawasan dijalankan dengan hati, maka pendidikan Islam tidak hanya akan bertahan tapi bangkit menjadi kekuatan besar yang membawa rahmat bagi semua.

“Bukan sekadar mencetak yang pintar, tapi yang benar.”

Reporter : Idam [ Kaperwil Jabar