Dua Ekskavator Turun ke Bumiayu, Pemulihan Pascabanjir Kali Keruh Mulai Dieksekusi

Brebes. Suluhnusantara.news | Proses pemulihan pascabanjir bandang yang menerjang Kecamatan Bumiayu mulai memasuki tahap konkret. Pada Minggu (15/2/2026), dua unit ekskavator bantuan dari Anggota DPR RI Komisi XI Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino, resmi dioperasikan untuk menangani dampak kerusakan di wilayah terdampak.

Alat berat tersebut difokuskan pada normalisasi aliran Sungai Kali Keruh yang meluap dan menghancurkan puluhan rumah warga. Tim Balane Harris Turino wilayah Brebes Selatan berkumpul di basecamp Tenaga Ahli Jefry Arsya Robby di Perumahan Permata B19, Jalan Lingkar Bumiayu, sebelum bergerak menuju Desa Dukuhturi RT 05 RW 01, salah satu titik terparah terdampak banjir.

Bejo, warga Desa Dukuhturi, menuturkan bahwa sedikitnya 13 rumah hilang dan ambruk akibat terjangan arus Kali Keruh. Ia berharap langkah penanganan yang kini dilakukan dapat mempercepat proses pemulihan.

“Rumah kami hilang tersapu banjir. Kami ingin segera ada penanganan agar bisa kembali menata kehidupan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa lahan yang terdampak merupakan tanah bersertifikat milik warga, bukan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Menurutnya, bantuan alat berat yang diturunkan sangat membantu dalam proses pembersihan material dan pembukaan akses.

Kerusakan Parah dan Pendangkalan Sungai
Pantauan di lokasi menunjukkan kerusakan cukup berat. Selain rumah warga yang roboh, lahan pertanian terendam dan sejumlah infrastruktur desa rusak. Material lumpur, batu, dan kayu yang terbawa arus dari hulu menyebabkan pendangkalan sungai, memperbesar risiko banjir susulan.

Tokoh masyarakat Brebes Selatan, Fami Fachrudin, menilai penanganan bencana perlu dilakukan secara terencana dan terkoordinasi lintas instansi.

“Penanganan harus berbasis strategi jangka panjang, bukan hanya respons sesaat. Tanah warga yang bersertifikat harus menjadi prioritas penyelamatan,” tegasnya.

Koordinator utama Tim Balane Harris Turino, H. Ahmad Ridwan (Ceper), mendesak pemerintah yang berwenang dalam pengelolaan sungai untuk segera menganggarkan normalisasi Kali Keruh secara menyeluruh.

“Situasi ini darurat. Normalisasi sungai dan penguatan tanggul harus menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak berulang,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Samsul Bayur menjelaskan bahwa dua ekskavator dioperasikan di Desa Dukuhturi dan Desa Adisana selama dua hari ke depan. Fokus pekerjaan meliputi pengerukan sedimentasi, pembersihan material, dan identifikasi titik-titik rawan.

Tim juga menyusuri aliran sungai untuk memetakan kebutuhan penanganan lanjutan, termasuk opsi pembangunan infrastruktur pengendali banjir.

Melalui tenaga ahlinya, Harris Turino menegaskan bahwa kehadiran di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap masyarakat terdampak.

“Pemulihan ini harus dikawal bersama. Politik sejatinya hadir saat rakyat membutuhkan,” pesannya.

Warga Desa Dukuhturi dan Adisana kini berharap langkah darurat ini diikuti kebijakan jangka panjang, seperti normalisasi sungai komprehensif dan pembangunan bendungan pengendali banjir, guna memastikan keamanan permukiman di masa mendatang. Pungkasnya. (Rizal Sismoro)