Jawa Timur — Suluhnusantara.News — Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang berada di kisaran ±5 persen dalam satu tahun terakhir mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Koordinator ALIANSI BIRU CERIA Jatim, Aven Januar menegaskan bahwa capaian tersebut bukan sekadar statistik makro, melainkan indikator nyata stabilitas ekonomi dan sosial daerah.
Dalam konferensi pers di Surabaya, Jumat (20/2/2026), Aven menyatakan pertumbuhan di atas lima persen memiliki dampak struktural terhadap ketenagakerjaan, daya beli, hingga kepercayaan investor.
“Berdasar Catatan Litbang ABC bahwa Pertumbuhan Ekonomi 5% adalah bukti keberhasilan kepemimpinan Khofifah-Emil pada tahun pertama pemerintahannya di periode keduanya,” tegas Aven dihadapan media.
Menurutnya, dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen maka struktur ekonomi Jawa Timur yang ditopang industri pengolahan, perdagangan, pertanian, serta sektor logistik, pertumbuhan tersebut memperkuat daya serap tenaga kerja. Kawasan industri di Surabaya Raya, Gresik, dan Pasuruan disebut menjadi lokomotif yang menjaga denyut lapangan kerja tetap hidup.
“Tanpa pertumbuhan di atas lima persen, kita berisiko melihat tekanan pengangguran meningkat. Fakta bahwa ekonomi tetap ekspansif menunjukkan daya tahan yang kuat, ” ujarnya.
Aven juga menyoroti dampak langsung terhadap pendapatan masyarakat. Kenaikan PDRB berdampak pada perbaikan pendapatan per kapita, khususnya di wilayah industri dan perdagangan.
Ia menilai stabilitas inflasi daerah turut menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli rumah tangga tetap terkontrol.
“Pertumbuhan yang sehat itu yang bisa dirasakan. Ketika konsumsi tetap bergerak dan harga relatif terkendali, masyarakat merasakan manfaatnya,” katanya.
Lebih jauh, Aven menyebut pertumbuhan ekonomi yang stabil berperan sebagai bantalan sosial. Risiko gejolak akibat PHK massal atau lonjakan kemiskinan ekstrem dinilai dapat ditekan ketika aktivitas ekonomi berjalan normal.
“Ekonomi yang tumbuh memberi ruang aman. Stabilitas sosial tidak datang tiba-tiba, ia lahir dari stabilitas ekonomi,” tegasnya.
Di sisi lain, pertumbuhan yang konsisten di kisaran lima persen dinilai memperkuat citra Jawa Timur sebagai wilayah yang ramah investasi. Investor, menurut Aven, membaca stabilitas sebagai indikator utama keberlanjutan usaha.
“Pasar membaca angka. Lima persen itu pesan kuat bahwa Jawa Timur dibawah Khofifah-Emil Dardak tetap Provinsi yang kompetitif dan stabil,” ujarnya.
Meski demikian, Aven mengingatkan bahwa tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan angka pertumbuhan, melainkan meningkatkan kualitasnya. Pemerataan wilayah, penguatan industri bernilai tambah, serta digitalisasi UMKM disebut menjadi agenda mendesak.
“Kita butuh pertumbuhan yang lebih inklusif. Bukan hanya tinggi, tetapi merata dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menegaskan, momentum satu tahun pertama Khofifah-Emil ini harus menjadi fondasi menuju tahun kedua pemerintahan yang lebih progresif.
“Kalau fondasi stabilitas ini dijaga, Jawa Timur bukan hanya bertahan, tetapi bisa melompat lebih jauh,” pungkas Aven.(siaji)