Brebes. Suluhnusantara.news | SMAN 1 Paguyangan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes menggelar Festival Tukar Takir bertema “Ajining Diri Seko Takir (Nata Pikir)” pada Jumat (13/3/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah tersebut menjadi momentum pelestarian budaya lokal sekaligus mempererat kebersamaan di bulan suci Ramadan.
Festival ini diisi dengan berbagai kegiatan bernuansa religi dan budaya, di antaranya tukar takir (berbagi kebahagiaan menjelang berbuka puasa), pentas seni tradisional, hadroh, live musik, penampilan Sanggar Andaka, qasidah, serta tausiyah keagamaan. Acara ini melibatkan siswa, guru, serta masyarakat sekitar yang turut hadir meramaikan suasana ngabuburit di lingkungan sekolah.
Kepala SMAN 1 Paguyangan, Yuniarso Amirudin, S.Pd., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah dalam melestarikan kearifan lokal yang telah menjadi tradisi masyarakat di wilayah Brebes bagian selatan.

Menurutnya, tradisi tukar takir memiliki makna sosial dan spiritual yang sangat mendalam. Selain menjadi bagian dari aktivitas menunggu waktu berbuka puasa, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
“Kita mengenal ungkapan di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Artinya, kita harus menghormati dan menjaga budaya lokal yang hidup di masyarakat. Tradisi tukar takir ini merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat wilayah Brebes selatan yang perlu kita rawat dan lestarikan,” ujar Yuniarso.
Ia menjelaskan, secara sederhana tukar takir merupakan kegiatan berbagi makanan menjelang berbuka puasa yang dibungkus menggunakan daun pisang dan diikat dengan lidi. Namun di balik kesederhanaannya, tradisi ini memiliki makna filosofis yang dalam.
Daun pisang yang digunakan sebagai pembungkus menggambarkan kedekatan manusia dengan alam, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan. Sementara lidi yang digunakan sebagai pengikat melambangkan kuatnya ikatan persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan sosial.

“Ketika daun pisang itu diikat dengan lidi, maknanya adalah persatuan. Jika ada ikatan yang kuat, maka tidak akan mudah tercerai-berai. Filosofi ini mengajarkan kita bahwa persatuan dan kebersamaan harus terus dijaga,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa tema “Ajining Diri Seko Takir (Nata Pikir)” memiliki makna menata pikiran dan hati selama bulan Ramadan. Sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, setiap individu diharapkan mampu mengarahkan aktivitasnya pada hal-hal yang bernilai ibadah dan kebaikan.
“Ramadan adalah bulan yang penuh keistimewaan. Banyak sekali pahala yang dilipatgandakan oleh Allah SWT. Karena itu kita harus menata pikiran, fokus pada ibadah, memperbanyak sedekah, tadarus Al-Qur’an, serta meningkatkan kepedulian sosial,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tukar takir bukan sekadar acara buka bersama atau bertukar makanan, melainkan sarana membangun nilai kebersamaan, kepedulian sosial, serta memperkuat identitas budaya masyarakat.
“Ketika budaya lokal kita jaga dan kita rawat, maka itu akan menjadi aset yang sangat berharga. Dari kegiatan ini kita belajar tentang persatuan, kebersamaan, dan kepekaan sosial,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Yuniarso berharap kegiatan Festival Tukar Takir dapat membawa keberkahan bagi seluruh peserta serta menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antarwarga sekolah dan masyarakat.
Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, ia secara resmi membuka kegiatan Festival Tukar Takir SMAN 1 Paguyangan.
Festival ini pun berlangsung meriah dan penuh kehangatan, mencerminkan semangat kebersamaan serta kekayaan budaya lokal yang tetap hidup di tengah masyarakat Brebes. Pungkasnya. (Rizal Sismoro)
