Geopolitik Bung Karno Kembali Relevan di Tengah Perang Dagang AS-China

Alfat Maulana, S.IP, M.Ikom : -Kepala Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan Provinsi Banten periode 2019 - 2024 -Sekretaris Jenderal Barisan Guruh Sukarno Putra -Wakil ketua GP Ansor Jakarta Timur periode 2025 - 2029

Jakarta~Suluhnusantara.News | Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sejak 2018 yang ditandai dengan saling balas tarif impor, dinilai bukan semata konflik ekonomi, melainkan pertarungan geopolitik dua kekuatan besar dunia. Di tengah kondisi tersebut, prinsip geopolitik Bung Karno dinilai kembali relevan untuk dijadikan pijakan Indonesia dalam menentukan sikap.

Menurut Alfat Maulana, S.IP, M.Ikom, Kepala Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan Provinsi Banten periode 2019–2024 dan Sekretaris Jenderal Barisan Guruh Sukarno Putra, konflik dagang ini merupakan wajah baru dari Perang Dingin, yang menyasar pengaruh ekonomi, supremasi teknologi seperti AI dan 5G, hingga dominasi geopolitik di kawasan Asia-Pasifik.

“Indonesia harus mampu mengambil posisi strategis, tidak terseret dalam tarik-menarik dua blok besar dunia,” ujarnya.

Alfat menekankan pentingnya kembali pada prinsip berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) yang dahulu digagas Bung Karno dalam forum Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non-Blok. Prinsip tersebut menolak ketergantungan pada kekuatan asing dan mendorong kemandirian politik dan ekonomi bangsa.

“Bung Karno tidak anti kerja sama, tapi menolak bentuk ketergantungan yang melemahkan. Justru ia mendorong solidaritas global selatan sebagai poros alternatif,” tambahnya.

Menurutnya, perang dagang ini membuka mata banyak negara, termasuk Indonesia, tentang rapuhnya ketahanan ekonomi akibat ketergantungan pada ekspor bahan mentah, impor teknologi, dan dominasi investasi asing.

Ia menyebut hal ini sebagai bentuk baru dari neo-imperialisme ekonomi, sesuatu yang telah diantisipasi Bung Karno puluhan tahun silam.Alfat menyoroti pentingnya Indonesia membangun ketahanan industri nasional, memperkuat diplomasi ekonomi multilateral, serta menjalankan kebijakan proteksi strategis tanpa terjebak nasionalisme sempit.

“Indonesia tidak boleh menjadi pelengkap penderita dalam konflik global. Kita perlu kembali menegakkan politik luar negeri bebas aktif dengan semangat berdikari,” tegasnya.

Ia menutup dengan mengutip semangat Bung Karno: “Go to hell with your aid!”, sebagai simbol pentingnya kedaulatan ekonomi dan politik di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks dan multipolar.

Selain menjabat di struktur partai dan organisasi, Alfat Maulana juga merupakan Wakil Ketua GP Ansor Jakarta Timur periode 2025–2029.

Pewarta : Joko Purnomo )*