TUBAN, SN News // 1 Maret 2026 Program Makan Gratis yang seharusnya menjadi harapan peningkatan gizi anak sekolah justru berubah menjadi ancaman kesehatan. Insiden memprihatinkan terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026, di salah satu sekolah di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.
Alih-alih mendapatkan asupan sehat, sejumlah siswa justru menerima susu kedelai yang diduga kuat telah basi.
Menu yang dibagikan terdiri dari piscok (pisang cokelat), telur rebus, dan susu kedelai dalam botol. Awalnya, anak-anak menyambut paket makanan itu dengan antusias.
Namun kegembiraan berubah menjadi kejanggalan saat beberapa botol susu dibuka.Aroma asam menyengat langsung tercium. Warna dan teksturnya pun dilaporkan telah berubah. Indikasi kerusakan sangat jelas — produk tersebut tidak layak konsumsi.
Pertanyaannya: bagaimana mungkin makanan untuk anak sekolah bisa lolos distribusi dalam kondisi seperti itu?Apakah tidak ada uji kelayakan sebelum dibagikan? Apakah tidak ada pemeriksaan bau, warna, atau tanggal produksi? Atau ada kelalaian dalam penyimpanan?
Susu kedelai basi berpotensi mengandung bakteri berbahaya yang dapat menyebabkan keracunan makanan, mulai dari mual, muntah, diare, kram perut, hingga dehidrasi berat.
Jika dikonsumsi dalam jumlah besar oleh banyak siswa, risiko keracunan massal bukan hal yang mustahil.Beruntung, dugaan susu basi itu terdeteksi sebelum seluruhnya dikonsumsi.
Namun, insiden ini sudah cukup menjadi alarm keras.Program makan gratis menyasar anak-anak — kelompok paling rentan. Sedikit saja kelalaian bisa berakibat fatal.
Warga kini mempertanyakan standar operasional prosedur (SOP) dapur penyedia makanan di wilayah tersebut.
Bagaimana sistem pengadaan bahan? Bagaimana mekanisme penyimpanan?Siapa yang bertanggung jawab melakukan kontrol kualitas sebelum distribusi?
Hingga berita ini ditulis, belum ada klarifikasi resmi dari pengelola dapur mengenai penyebab lolosnya susu basi tersebut ke tangan siswa.Minimnya transparansi justru memperbesar kecurigaan publik.
Program makan gratis adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas generasi bangsa. Namun tanpa pengawasan ketat, program ini bisa berubah menjadi bumerang.
Kepala Desa Mundir menyayangkan kejadian tersebut dan meminta pihak yayasan pengelola lebih berhati-hati, terutama karena konsumennya adalah anak-anak.Insiden ini harus menjadi momentum evaluasi total, bukan sekadar klarifikasi normatif.
Aparat terkait diharapkan turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan tidak ada unsur kelalaian berat — apalagi jika sampai mengarah pada pembiaran sistemik.
Anak-anak datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk mempertaruhkan kesehatan mereka.Program sosial bukan hanya soal distribusi — tetapi soal tanggung jawab, integritas, dan pengawasan yang ketat.
Jika tidak mampu menjamin keamanan pangan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi, melainkan nyawa generasi penerus bangsa. (Bsr-tim)*