Markus Menyalakan Lentera Puput: Safari Ramadhan Jadi Simbol Kepemimpinan Humanis dan Toleransi Bangka Barat

Puput, Bangka Barat — Suluhnusantara.News // Di halaman Masjid Baitussalam, Desa Puput, Kecamatan Parit Tiga, Jumat (28/02/2026), Bupati Bangka Barat Markus, S.H. menegaskan Safari Ramadhan 1447 H/2026 sebagai strategi sosial untuk memperkuat santunan sosial dan merawat toleransi beragama di tengah masyarakat majemuk.

“Safari Ramadhan ini bukan sekadar kunjungan. Ini cara kami mendengar napas rakyat dan memastikan pemerintah hadir bukan hanya dalam program, tetapi dalam rasa,” ujar Markus di hadapan jamaah.

Kegiatan itu diisi penyaluran bantuan lintas sektor dari BAZNAS Bangka Barat, PT Timah, dan Bank Sumsel Babel berupa uang tunai, paket sembako, serta perlengkapan masjid bagi warga Desa Puput.

Namun, di balik daftar bantuan, ada cerita yang tak tercatat di papan statistik.Di sudut masjid, seorang ibu menggenggam paket sembako seperti memeluk masa depan. Ia menunduk, lalu berbisik,

Bantuan ini bukan hanya beras untuk sahur kami. Ini tanda bahwa kami tidak sendiri.” Bagi Markus, kalimat itu adalah makna sebenarnya Safari Ramadhan.

Ia mengingatkan Desa Puput pernah dikenal sebagai desa kerukunan beragama dan harus menjaga identitas tersebut.

“Kalau kita kehilangan toleransi, yang runtuh bukan hanya rumah ibadah, tapi rumah kemanusiaan kita sendiri,” katanya.

Di halaman masjid, anak-anak bermain di antara tenda Pasar Ramadhan. Kolak pisang berdampingan dengan kue keranjang. Tangan berbeda iman saling memberi uang kembalian dengan senyum yang sama.

Seorang pedagang kecil berkata,“Di Puput kami berdagang tanpa melihat agama. Kalau satu susah, semua membantu.”Di sinilah Safari Ramadhan berubah dari acara seremonial menjadi panggung human interest tentang pemimpin yang ingin hadir bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai tetangga.

Kepala Desa Puput menyebut kehadiran Markus dan jajaran pemerintah sebagai bukti desa tidak berjalan sendiri.

“Bupati datang bukan hanya membawa bantuan, tapi membawa rasa percaya,” katanya.

Malam itu, bulan sabit menggantung di atas Baitussalam seperti saksi. Bahwa politik bisa menjadi lembut, bahwa kepemimpinan bisa berbentuk santunan, bahwa toleransi bisa tumbuh dari tangan yang memberi.Di Desa Puput, Safari Ramadhan Markus tidak hanya dibacakan dalam pidato.

Ia dibagikan dalam sembako, dihamparkan dalam sajadah, dan dihidupkan dalam pasar.Di bawah langit Parit Tiga, citra kepemimpinan itu berdiri sederhana namun cukup terang untuk menyalakan harapan.

Penulis : Belva,satrio(Srikandi / tim)