BOGOR – Suluhnusantara. News, Komitmen lembaga kemanusiaan dan kebencanaan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) dalam mengabdi kepada korban bencana kembali ditegaskan melalui pengiriman Relawan Gelombang III ke Provinsi Aceh. Sebanyak 34 personel Ahad siang (4/1/2026) diberangkatkan untuk melanjutkan dan memperluas misi kemanusiaan bagi warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor yang hingga kini masih bergulat dengan dampak fisik, psikologis, dan keterbatasan akses bantuan.
Relawan yang diberangkatkan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mencerminkan semangat ukhuwah lintas daerah. Lima personel (di antaranya 2 muslimat) berasal dari Jabodetabek, sembilan dari Banyumas Raya (Banjarnegara dan Brebes), enam dari Jawa Tengah Utara (Semarang), tiga dari Kalimantan Barat, serta 11 personel dari Sumatera Selatan.

Mereka terbagi dalam dua keberangkatan, yaitu dari Pelabuhan Domistik Tanjung Periok, Jakarta Utara sebanyak 24 relawan menggunakan Kapal Oemarrasheed-Kalla Lines dari Pelabuhan Tanjung Periok, Jakarta Utara, Ahad (4/1/2026). Kapal PMI akan menempuh rute perjalanan selama maksimal 3 jam sampai di Pelabuhan Belawan, Medan sebelum melanjutkan perjalanan ke Lhokseumawe dan Banda Aceh. Namun hingga pukul 14.30 WIB kapal belum juga berangkat.
“Kapal belum berangkat, masih dua truk muatan beras dan alat-alat berat,” kata Nurul Priansah relawan UAR saat dikonfirmasi, Ahad siang.
Sementara itu Tim Relawan dari Sumatera Selatan sebanyak 11 personel berangkat pada hari yang sama pukul 10.00 WIB menggunakan transportasi Bus Rapi jurusan Palembang – Medan. “Insya Allah hari Selasa sampai ke Medan,” kata Pembina UAR Wilayah Sumatera Selatan, Ade Jalaluddin, yang turut dalam rombongan sebagai pemimpin perjalanan tim ke Aceh. Kedua tim akan berkumpul di Posko Utama UAR Aceh Tamiang.
Dalam prosesi pelepasan relawan, Pembina UAR Imaam Yakhsyallah Mansur memberikan tausiyah yang menekankan kemurnian niat dalam beramal sholih. Ia mengingatkan para relawan agar menunaikan tugas kemanusiaan semata-mata sebagai bentuk ibadah kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam dalam Al-Qur’an Surat Adz Dzariyat 56, “Wama khalaqtul jinna wal iinsa illa liya’budun.”
“Hendaknya para relawan dalam berbuat di lokasi bencana semata-mata ibadah, menghambakan diri kepada Allah. Jangan berbuat karena manusia atau karena ingin pujian orang lain, sebab itu akan merusak amal kalian,” ujar Imaam Yakhsyallah Mansur saat melepas keberangkatan tim relawan di Masjid At-Taqwa Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Sabtu (3/1/2026) malam.
Imaam juga mengingatkan agar para relawan menjadi “alat” terbaik bagi Allah dalam memenuhi hajat terhadap hamba-hambanNya, jangan sampai menjadi alat yang tidak bermutu di lapangan amal sholih. Selain itu beliau minta agar semua relawan UAR menjaga nama baik lembaga dan Jama’ah.
“Hendaknya para relawan menjadi pewangi di masyarakat yang terkena musibah. Jangan sampai harum nama yang dimiliki kemudian hilang karena kurang baik dalam beramal sholih di lokasi bencana,” ucap Imaam Yakhsyallah.
Sekitar pukul 21.00 WIB Tim UAR berangkat ke Pelabuhan Domistik Tanjung Periok, Jakarta Utara dengan tiga kendaraan mobil, termasuk mobil Frontier yang akan dipakai untuk operasional di Provinsi Aceh. Ketua Umum UAR H. Endang Sudrajat juga turut mengantar Tim Relawan ke Pelabuhan. Bahkan ia berada di Dermaga hingga pukul 2 dini hari menunggu kapal berangkat.
“Seharusnya Sabtu pukul 10 malam kemarin (3/1) muatan kapal sudah closing. Namun karena ada titipan negara 500 ton beras untuk Gubernur (masyarakat) Aceh, jadi agak mundur sedikit,” kata Ilham Huznul, Kabag Logistik PMI Pusat, Ahad pagi.
Menurut Ilham, sebagai pengganti waktu yang molor beberapa jam, dalam perjalanan nanti kapten kapal akan mempercepat laju kapal hingga sampai di Medan bisa ditempuh selama 2,5 hari.
Guna mempercepat waktu keberangkatan kapal, para relawan UAR Ahad siang turut bergotong royong membantu menurunkan beras titipan tersebut yang akan dikirim ke Banda Aceh untuk Yang terdampak Bencana Alam.
Reporter : Al Mujahid