Bogor, – Suluhnusantara. News, // Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriyah, suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti Kampung Sanapati, RT 02 RW 02, Desa Tamansari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Keluarga besar Almarhum Raden Haji Encep Muhammad Nursaleh dan Almarhumah Raden Hajjah Mamah Purdiwahara menggelar Silaturahim Akbar yang sarat makna dan nilai kebersamaan.

Tradisi tahunan menjelang Ramadan ini diawali dengan ziarah kubur di pemakaman keluarga. Lantunan dzikir, wirid, dan doa menggema khusyuk, dipimpin oleh putra kedua, Drs. Raden Wahyudin Nursaleh, BA. Suasana hening bercampur haru menjadi pengingat bahwa bakti kepada orang tua tak terhenti meski mereka telah berpulang.
Almarhum dan Almarhumah meninggalkan enam orang anak yang kini telah sukses di berbagai bidang, yakni Drs. Raden Haji Agus Syamsudin, Drs. Raden Wahyudin Nursaleh, BA, Ir. Raden Muhammad Mukyadin, MSi, Raden Toharudin, SE, Raden Ade Rahmat, S.Kom., serta Prof. Dr. Raden Ajeng Entaresmen, SE, MM – dosen tetap dan pejabat struktural di Universitas Trisakti.

Tak sekadar ritual, momen ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antar anak, cucu, dan menantu. Usai ziarah, keluarga besar berkumpul, saling bersalaman, saling memaafkan, dan melanjutkan dengan makan bersama penuh keakraban.
Dalam sambutannya, kakak tertua Drs. Raden Haji Agus Syamsudin menyampaikan pesan penuh makna. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan, mengamalkan nilai silih asih, silih asah, silih asuh, serta saling membantu dalam setiap kesulitan kehidupan.
“Orang tua kita akan tenang di alam kubur dan alam barzah jika melihat anak-anaknya rukun, kompak, dan saling memaafkan. Itu adalah bukti bakti kita kepada mereka,” tuturnya penuh haru.
Pesan tersebut disambut anggukan dan air mata haru dari seluruh keluarga. Kebersamaan ini menjadi pengingat bahwa warisan terbesar orang tua bukanlah harta, melainkan nilai persaudaraan dan amanah menjaga silaturahmi.
Reporter : Drs. Wahyudin BA
