Bang Aboul : Politik Bukan Sekadar Keberpihakan, Tapi Seni Mengelola Perbedaan

SUNGAILIAT — suluhnusantara.news Politik bukan semata-mata soal siapa berpihak pada siapa, melainkan soal bagaimana merawat perbedaan dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Itulah pandangan yang ditegaskan oleh Aboul A’la Almaududi, SH, Ketua PD Inaker Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, saat ditemui awak media di Sungailiat, Selasa (16/7/2025).

Menurutnya, selama ini masyarakat sering salah kaprah memahami politik hanya sebagai arena pertarungan antar-kubu. Padahal, politik sejatinya adalah ruang untuk menyatukan gagasan dan membangun masa depan bersama.

“Politik itu seni mengelola perbedaan. Keberpihakan dalam politik bukan hal yang salah, selama ia berpihak pada kebenaran, pada kaum lemah, pada keadilan,” ujar Aboul.

Pria yang dikenal luas sebagai aktivis literasi dan pengamat sosial ini juga mengingatkan bahwa keberpihakan politik yang sehat justru menjadi penanda keberanian moral. Dalam konteks demokrasi, ketidakberpihakan pada nilai-nilai keadilan justru menjadi bentuk pembiaran atas ketimpangan.

“Kalau kita netral terhadap ketidakadilan, maka kita sedang membiarkan ketidakadilan itu tumbuh,” tegasnya.

Aboul yang lahir di Sungailiat, Bangka, mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 1994. Yogyakarta pada masa itu dikenal sebagai kota pelajar yang melahirkan banyak pemikir kritis dan aktivis sosial. Pengalaman merantau dan belajar di tengah atmosfer intelektual tersebut membentuk karakter berpikir dan sikap sosial Aboul hingga kini.

Semasa kuliah, ia sempat bercita-cita menjadi diplomat. Semangat itu masih terlihat dalam gaya bicaranya yang tenang namun bernas, serta konsisten dalam menyuarakan nilai-nilai keadilan. Di luar kesibukan sosial dan organisasi, Aboul adalah pribadi yang gemar berdiskusi dan menonton film, terutama yang menyentuh sisi kemanusiaan, sejarah, dan psikologi masyarakat. Baginya, “film adalah cermin sosial dan politik yang tak pernah bohong.” Tukas Aboul

Kini, melalui wadah Indonesia Bekerja (Inaker) dan sejumlah platform media, Aboul terus mendorong lahirnya kesadaran politik di tengah masyarakat. Ia mengajak masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak alergi terhadap politik, karena sejatinya politik menyentuh hampir seluruh sisi kehidupan.

“Politik itu bukan soal elite saja. Setiap keputusan politik berdampak langsung pada hidup kita: harga sembako, pendidikan, kesehatan, semuanya. Maka jangan cuek. Berpihaklah — pada nurani, pada rakyat, pada kebaikan,” ujarnya.

Aboul juga menegaskan bahwa masyarakat sering menyalahartikan makna politik. Banyak yang menganggap politik hanya sebatas perebutan kekuasaan atau urusan partai, padahal politik adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

“Dari cara kita mengatur rumah tangga, membangun hubungan pertemanan, hingga ikut menentukan arah bangsa — semua itu bagian dari politik,” ujarnya.

Mengutip filsuf Yunani, Aristoteles, Aboul menyampaikan bahwa manusia adalah makhluk politik (zoon politikon), dan politik merupakan cara manusia hidup bersama dalam masyarakat, untuk mencapai kebaikan bersama (the good life). Bagi Aristoteles, politik adalah upaya luhur untuk menciptakan kehidupan yang adil, tertib, dan bermartabat.

Dengan pemahaman itu, Aboul berharap masyarakat bisa melihat politik sebagai sesuatu yang positif, penting, dan menyatu dengan kehidupan, bukan sebagai sesuatu yang kotor atau harus dijauhi.

“Keberpihakan yang sehat dalam politik adalah saat kita berpihak pada nilai-nilai keadilan, bukan hanya pada kelompok kita sendiri. Politik adalah kehidupan itu sendiri — berjalan dari ruang keluarga hingga ruang publik. Ini adalah perjalanan bersama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik,” tutupnya dengan penuh keyakinan. ( Darmawan)