Ermawati:Dari Jahitan ke Jurnalisme, Perjalanan Penuh Keberanian

(Kisah Nyata, Suluhnusantaranews)

Pada suatu malam yang tenang, tepat pukul 22.32 WIB, saya, Ermawati, seorang ibu dari lima anak di Padang, Sumatera Barat, merasakan dorongan kuat untuk menuliskan kisah hidup yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya—kisah tentang bagaimana saya, seorang penjahit biasa, menemukan kebahagiaan sejati di dunia jurnalis. Awalnya terasa ngeri dan seram, tapi inilah cerita saya.

Menjadi wartawati bukanlah impian yang pernah saya pikirkan, apalagi mengejar. Saya hanyalah seorang ibu yang mencoba memenuhi kebutuhan keluarga melalui usaha jahit. Namun, hidup sering kali membawa kita ke jalan yang tak terduga. Suatu hari, seorang senior dari Suluhnusantaranews—yang sangat saya hormati—membuka pintu menuju dunia baru bagi saya. Suluhnusantaranew.Karena kegundahan saya atas kebobrokan lingkungan saya dengan ketidak adilan, terlebih bagi masyarakat awam. Saya disarankan dan direkrut menjadi jurnalis, dan nama saya pun tersemat di boks redaksi. Sebuah kehormatan yang tak pernah saya bayangkan.

Pertanyaan yang pertama kali muncul dari beliau setelah saya sudah masuk media ini adalah, “Bagaimana perasaan ibu sebagai seorang jurnalis?” Saya hanya menjawab singkat, “Alhamdulillah, suka.” Tetapi, di balik jawaban sederhana itu, Saya heran ada sedikit keraguan mendapati sikap mentor saya yang begitu keras. Namun seakan tersembunyi kegembiraan yang luar biasa dibalik perasaan saya. Akhirnya saya pahami dunia jurnalistik membawa saya pada perjalanan yang penuh tantangan, namun juga dipenuhi dengan makna dan kepuasan yang mendalam.

Setiap hari, saya semakin merasakan bahwa menjadi jurnalis bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan jiwa, kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain, bangsa, agama, dan negara. Saya belajar dari ucapan mentor saya, “Bahwa tulisan wartawan sejati adalah cermin dari kebenaran yang tidak bisa disangkal. Tulisan itu harus murni, berdasarkan fakta yang saya lihat, dengar, dan rasakan”.awalnya begitu ngeri saya.
Tetapi saya sadar, dunia ini memang membutuhkan lebih banyak orang yang berani menuliskan kebenaran, seperti sosok mentor saya sekarang.

Pada awalnya, saya khawatir pula bagaimana menyeimbangkan pekerjaan ini dengan usaha jahit yang telah saya tekuni. Namun, keyakinan bahwa Allah SWT akan memberkahi usaha dan rezeki saya melalui profesi ini, semakin memperkuat tekad saya. Saya percaya, dengan menjadi wartawati, saya bukan hanya bekerja, tapi juga berjuang demi keterbukaan dan keadilan.Itu artinya wartawati merupakan ruang ibadah bagi saya.

Keluarga saya, terutama anak-anak dan ibu saya, adalah pilar kekuatan saya. Mereka mendukung penuh keputusan saya untuk menjadi jurnalis, meskipun banyak yang bertanya-tanya bagaimana saya bisa menjalankan dua peran ini sekaligus. Teman-teman di lingkungan sekitar pun turut memberikan semangat. Mereka melihat saya bukan hanya sebagai seorang penjahit, tetapi juga sebagai seorang yang berjuang untuk kebenaran.

Kebahagiaan terbesar dalam hidup saya adalah saat saya bisa berguna bagi orang lain. Dan itulah yang saya temukan di dunia jurnalis. Menyesal rasanya, ketika ingat pertama nya saya sempat hampir menyerah, terutama ketika mentor saya—yang sangat keras dan tegas—terus mendorong saya untuk menjadi lebih baik.

Namun, di balik ketegasan itu, saya menemukan kasih sayang yang luar biasa.Beliau mengajarkan saya untuk tidak takut kepada siapapun dalam menyampaikan kebenaran, karena tugas wartawan adalah menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar.

Wartawan: Menjadi Suara Bagi Mereka yang Tak Terdengar

Sebagai seorang wartawan, saya menyadari bahwa peran kami lebih dari sekadar menuliskan berita. Kami adalah jembatan antara suara yang tak terdengar dan dunia yang sering kali abai. Setiap kata yang saya tuliskan bukan hanya rangkaian huruf, tetapi adalah cerminan dari harapan, kekecewaan, dan perjuangan mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk berbicara.

Lebih lebih saat itu, saya sedang bertemu sebuah dugaan pungli, di sebuah sekolah dasar, dimana disekeliling saya ada orang-orang yang butuh tempat mengadu dan dapat membela mereka dari ketak berdayaan.Apalagi Saya sering menemukan orang orang yang hidupnya begitu mengharukan, namun tak pernah mendapat perhatian. Mereka adalah orang-orang biasa—ibu rumah tangga, petani, buruh, anak-anak—yang suaranya tenggelam di tengah hingar-bingar berita besar. Melalui tulisan saya, saya berusaha untuk memberikan mereka tempat, agar dunia tahu bahwa mereka ada dan bahwa kisah mereka penting.

Saat itu saya sadar, betapa pentingnya peran seorang wartawan untuk menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar. Tulisan saya bukan hanya tentang fakta, tetapi juga tentang empati, tentang menggugah kesadaran publik.

Menjadi wartawan berarti kita harus siap untuk menghadapi berbagai tantangan. Tidak jarang, kita berada di tengah tekanan dari berbagai pihak yang tidak ingin kebenaran terungkap. Tetapi, saya selalu ingat kata-kata mentor saya, “Katakan yang benar itu benar, jangan pernah takut.Karena di balik setiap tulisan yang jujur, ada kekuatan yang bisa mengubah dunia”
Ujaran itu mendorong saya untuk tetap maju.

Saya merasa, dengan menjadi jurnalis, saya bisa memberikan yang terbaik bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk orang lain. Melalui tulisan, saya bisa menjadi suara bagi mereka yang tak pernah didengar. Saya bisa menyuarakan kebenaran yang selama ini tersembunyi. Dan itu adalah kebahagiaan terbesar bagi saya.

Meskipun perjalanan ini tidak mudah, dengan segala tantangan dan rintangan yang ada, saya tetap teguh pada prinsip bahwa wartawan sejati adalah mereka yang menulis dengan hati dan berani menyuarakan kebenaran. Saya akan terus berjuang untuk menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar, dan saya yakin bahwa di akhir perjalanan ini, saya akan menemukan kebahagiaan yang sejati.

Terima kasih kepada semua yang telah mendukung saya dalam perjalanan ini, terutama kepada rekan-rekan di Suluhnusantaranews yang selalu memberikan semangat. Semoga kisah ini bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk berani mengangkat suara-suara yang tak terdengar.

Penulis:
Ermawati
Suluhnusantaranews