BLITAR – Suluhnusantara. News // Gema lagu “Darah Juang” dan pekik “Merdeka” mewarnai penutupan Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) yang diselenggarakan oleh GMNI Blitar. Setelah melalui penggodokan ideologi selama tiga hari penuh, kegiatan yang dipusatkan di Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan ini resmi berakhir hari ini, Minggu (25/01/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan upaya strategis untuk melahirkan “Manusia Marhaenis” yang siap menjawab tantangan zaman.
Mencetak Kader Progresif-Revolusioner
Kepala Desa Jimbe, Fendi Gira Santoso, S.Sos., yang menjadi tuan rumah sekaligus mentor bagi para mahasiswa, menegaskan bahwa KTD adalah gerbang awal bagi mahasiswa untuk keluar dari menara gading dan menyentuh realitas rakyat.

“Selama tiga hari ini, para peserta diajak memahami Pancasila dan Marhaenisme secara utuh. Ini penting agar gagasan besar Bung Karno tidak hanya berhenti sebagai teori di buku, tapi diimplementasikan secara nyata di kampus dan masyarakat setelah mereka pulang dari sini,” tegas Fendi dengan penuh apresiasi.
Senada dengan hal itu, Nicolas Kusuma Ananda (Ketua Komisariat Hukum Unisba) menjelaskan bahwa KTD kali ini mengusung semangat kolaborasi lintas disiplin ilmu, yakni antara Komisariat Hukum dan Ekonomi Unisba.
“Kami ingin mencetak kader yang progresif dan revolusioner. Di era disrupsi ini, kader GMNI harus mampu menjadi Agent of Change, Agent of Control, sekaligus Iron Stock yang memiliki bekal intelektual kuat untuk memecahkan masalah bangsa,” ungkap Nicolas.
Gotong Royong sebagai Napas Perjuangan
Ketua Komisariat Hukum Unisba lainnya, Amar Rafi Nararya Syahputra, menyoroti bagaimana dinamika selama tiga hari pelaksanaan didasari oleh semangat gotong royong. Menurutnya, tanpa persatuan, mahasiswa hanya akan menjadi butiran pasir yang tidak berarti.
“Sesuai ajaran Bung Karno, jika kita bersatu dan bergotong royong, kontribusi nyata bagi masyarakat akan lebih mudah diwujudkan. Kader GMNI harus menjadi perekat di tengah masyarakat,” ujar Amar.
Puncak Acara: Merawat Bumi, Merawat Ideologi
Ada yang berbeda pada sesi penutupan hari ini. Para peserta tidak hanya menerima sertifikat, tetapi juga terjun langsung melakukan aksi penanaman pohon di area Desa Jimbe.
Bagus, Ketua Panitia Pelaksana, menjelaskan bahwa aksi ini adalah simbol bahwa nasionalisme harus berjalan beriringan dengan kelestarian alam.
“Nasionalisme dan patriotisme harus tetap menyala. Namun, cinta tanah air juga berarti cinta pada tanah dan airnya secara fisik. Menanam pohon adalah bukti nyata bahwa GMNI Blitar konsisten merawat alam. Alam yang lestari akan menjauhkan kita dari bencana dan memberikan kenyamanan bagi kehidupan manusia,” kata Bagus.
Melalui kegiatan yang menghadirkan tokoh-tokoh nasionalis sebagai pemateri ini, GMNI Blitar berharap para kader baru memiliki pola pikir yang terstruktur dalam menghadapi problem sosial. Dengan berakhirnya kegiatan ini hari ini, kader baru siap kembali ke kampus sebagai motor penggerak perubahan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan siap melawan penjajahan gaya baru pungkas Bagus ketua panitia.
Reporter : Nicolas
