
Bangka Belitung,- sukuhnusantara.news —
Badan Pengurus Wilayah GESID BABEL (Generasi Emas Indonesia Bangka Belitung) menyampaikan sikap tegas terhadap kebijakan kenaikan harga BBM non-subsidi yang dinilai tidak berpihak kepada kondisi riil masyarakat.22/04/2026
Berdasarkan kebijakan terbaru dari PT Pertamina (Persero), harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan signifikan. Pertamax Turbo meningkat hingga kisaran Rp19.400 per liter, sementara Dexlite dan Pertamina Dex menembus angka di atas Rp23.000 per liter. Lonjakan ini bahkan mencapai lebih dari 50% pada beberapa jenis BBM.
Kenaikan tersebut bukan hanya angka statistik, tetapi berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Biaya transportasi meningkat, distribusi barang menjadi lebih mahal, dan tekanan ekonomi semakin dirasakan oleh pelaku UMKM, pekerja harian, serta sektor informal.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia menyampaikan bahwa penyesuaian harga mengikuti mekanisme pasar global, termasuk fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Namun, BPW GESID BABEL menilai bahwa kebijakan publik tidak boleh hanya tunduk pada mekanisme pasar tanpa mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat.
Sikap Resmi BPW GESID BABEL:
- Mendesak evaluasi menyeluruh dan transparan terhadap kenaikan harga BBM non-subsidi.
- Menolak kebijakan yang tidak sensitif terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
- Meminta pemerintah membuka formula penetapan harga BBM secara jelas dan akuntabel.
- Menegaskan bahwa negara harus hadir sebagai pelindung rakyat, bukan sekadar pengikut mekanisme pasar global.
BPW GESID BABEL menegaskan bahwa energi merupakan kebutuhan dasar. Ketika harga energi melonjak tanpa kontrol yang berpihak, maka yang terancam bukan hanya daya beli, tetapi juga stabilitas ekonomi masyarakat secara luas.
Ketua BPW GESID BABEL menyampaikan sikap tegas: “Kami tidak menolak kebijakan, tetapi kami menolak ketidakadilan. Kenaikan harga BBM ini terlalu tajam dan tidak mencerminkan keberpihakan kepada rakyat.”
“Rakyat tidak butuh sekadar penjelasan tentang mekanisme pasar. Rakyat butuh perlindungan. Ketika harga naik drastis, yang terdampak bukan hanya ekonomi, tetapi kehidupan sehari-hari masyarakat.”
“Jika kebijakan hanya mengikuti pasar, maka pertanyaannya sederhana: di mana peran negara? Negara harus hadir, bukan hanya menghitung, tetapi juga merasakan.”
BPW GESID BABEL menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan ini secara aktif dan berdiri bersama masyarakat dalam memperjuangkan keadilan ekonomi.
BPW GESID BABEL akan terus melakukan advokasi, kajian, serta gerakan sosial untuk memastikan kebijakan energi di Indonesia tetap berpihak kepada rakyat.
GESID BABEL tidak akan diam.
Kami berdiri, bersuara, dan bergerak bersama rakyat.
( Darmawan)
