Pangkalpinang — suluhnusantara.news —
Oleh: Edi Irawan, ST
Ketua Badan Riset dan Inovasi Strategis Partai Demokrat Babel
Pagi saat mentari perlahan tersenyum menemui ribuan orang berjalan. Selembaran daun yang mulai mengering dari embun. Pagi saat semua hiruk pikuk tak berhenti walaupun hari libur. Minggu, 26 April 2026. Bersama dengan orang tua saat berlari pagi di taman perumahan dinas Pemerintah Kota Pangkalpinang.
Dua orang pemudi, Fathyah (22) dan Anes (22) mendulang rezeki di tengah keramaian. Kegiatan keramaian itu hanya satu, yakni berolahraga pagi. Di bawah pohon rindang itu pandanganku terarah pada kegiatan dua pemudi. Di sana ada perangkat foto dilengkapi dengan perangkat cetaknya pula. Kedua pemudi ini mencoba menyentuh peluang usaha kreatif yang bisa jadi menjadi cikal bakal dari peluang usaha yang berkepanjangan.
Hampir 95% masyarakat yang memiliki handphone menyimpan file foto dan kenangannya hanya dalam HP dan sosial media mereka. Dua pemudi ini mencoba mengambil langkah ekonomi dengan memberikan suatu produk berbeda namun nyata. Konkret, dapat dipegang, dapat disimpan dengan cara analog. Produk itu dapat disimpan dalam kado, buku harian, bahkan hiasan meja dalam bentuk nyata. Pemudi ini menjual kenangan menjadi barang nyata yang tidak serta merta hilang bila HP ataupun akun media sosial kita hilang.
Satu hal yang membuat penulis terkesan, dua pemuda ini tampil berani mencoba membuka ruang baru. Peluang usaha, ekonomi, dan mempelajari perilaku dari sikap masyarakat terhadap kenangan analog. Berhasil atau tidak mungkin itu urusan belakangan, namun sikap yang diambil dua pemudi ini membuat penulis merasa harus lebih banyak belajar dari mereka.
Minggu pagi yang mungkin sebagian besar pemuda pemudi bangun siang, rebahan, mala-malasan dan sebagainya. Namun kali ini ada peristiwa yang dapat dilihat oleh semua orang, ada mekanisme baru dari cara generasi umur 20an melakukan kegiatan positif untuk berpenghasilan.
Kehadiran dua pemudi ini, menjadi warna yang seharusnya mendapat dukungan penuh pemerintah. Menjadi percontohan kaum pemuda yang produktif dengan karya. Bukan pegang peluit saat kendaraan baru mulai jalan. Prit prit prit. Pemudi ini mulai berjuang. Membuka mata masyarakat luas bahwa ada mekanisme jasa yang amat sangat layak untuk dijual.
Pagi ini, penulis melihat secercah harapan. Teknologi adalah ruang baru yang sangat dapat dimanfaatkan oleh setiap orang. Menjangkau kecerdasan luas tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan sektoral. Pemerintah harus mengambil peran. Menguatkan tata kelola administrasi dan data agar dapat menjagkau pemuda diseluruh pelosok desa dan kota akan peluang usaha dan kerja sama. Bukan menutup rapat dari budaya feodal untuk bekerja sama. Menjadi jembatan agar bola mata pemuda itu penuh keyakina bahwa pelayanan publik ada untuk mereka.
Komunikasi Pemerintah Provinsi Bangka Belitung saat ini harusnya menjadi mercusuar bagi bola mata masyarakat yang belum terbuka lebar. Namun apa daya, organ dari pemerintahannya pun begitu lemah. Sumber Daya Manusianya dikelola oleh pejabat tidak bertanggung jawab, tidak punya etika namun tetap ‘dipakai’. Diskominfo yang menjadi mulut dan telinga, namun dipimpin kepala yang tidak punya isi kepala. Komisi Informasi Babel yang seharusnya menjadi penegak Undang-Undang, malah menjadi kutu dan penyakit menular yang merusak hukum tata cara sengketa.
Kekaguman penulis pagi ini, setidaknya meredam sejenak dari gejolak hati betapa buruknya tata kelola pemerintah yang seharusnya mengambil peran penting bagi bertumbuhnya potensi lintas generasi dalam Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
( Darmawan)
