Pati-Suluhnusantara.News –
Masyarakat Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, mempunyai tradisi unik dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, dimana tradisi ini turun temurun dari tahun ke tahun. Meron merupakan tradisi tiruan adat Sekatenan menyambut Maulid Nabi Muhammad S.A.W di Mataram atau Yogyakarta.
Mengulik Sejarah Tradisi Meron berawal dari Desa Sukolilo yang merupakan Kademangan dibawah kekuasaan Kadipaten Pati Pesantenan. Usai perang Kesultanan Mataram menumpas perlawanan Adipati Pati, sekitar tahun 1600 sisa-sisa prajurit Mataram yang bertugas di Kademangan Sukolilo tidak pulang ke Mataram namun mesanggrah (beristirahat) di Kademangan Sukolilo.

Sedangkan demang yang menduduki Sukolilo adalah Demang Suro Kerto dan mempunyai lima saudara yaitu : Suro Kadam, Sura Yudo, Suro Tirto, Suro Wijoyo. Saudara lima ini akhirnya disebut sebagai Pendhowo limo. Inilah akhirnya menjadi cikal bakal terjadinya Meron di Sukolilo. Pendhowo limo tersebut masih keturunan Mataram.

Walaupun Kademangan Sukolilo dibawah naungan Kadipaten Pati, akan tetapi Suro Kadam sudah mengabdi ke Mataram maka di perintahkan untuk membantu prajurit Mataram sekaligus menjadi prajurit Sukolilo bersama empat Tumenggung yakni :
- Kanjeng Raden Tumenggung Cindhe Kusumo/Cindhe Among/Cinde Amoh.
- Kanjeng Raden Tumenggung Rojo Maladi (Rojo molo)
- Kanjeng Raden Tumenggung Candhang Lawe (Raden Slender),
- Kanjeng Raden Tumenggung Samirono ( Raden Sembrana).
Raden Ngabei Suro Kadam menjadi cucuk lampah merangkap menjadi prajurit sandi dengan mengendarai gajah milik Kanjeng Sultan menuju Sukolilo bersama dengan Suro Kerto dan saudara lainya mendampingi Suro Kadam.

Dalam peperangan melawan Bupati Pati, Wasis Wijoyo Kusumo akhirnya bisa di kalahkan dan akhirnya bersatu dengan Mataram. Sepulang dari peperangan, para prajurit Mataram beristirahat atau mesanggrah di Sukolilo. Saat itu tepat dihari Kelahiran maulud nabi Muhammad SAW.
Para prajurit ingat setiap tanggal 12 Maulud di Mataram menyelenggarakan upacara Sekaten menyambut Maulid Nabi S.A.W. Para prajurit ijin untuk tidak pulang dengan alasan berjaga-jaga agar tidak terjadi pembangkangan, dan juga menyampaikan permohonan untuk menyelenggarakan upacara Sekatenan di Sukolilo.
Berkat ijin tersebut Kademangan Sukolilo diperkenankan mengadakan upacara serupa (Sekaten) setiap tahunnya di Sukolilo. Namun tidak lagi menggunakan nama Sekaten tetapi menjadi Meron. Tradisi ini setiap tahunnya dilestarikan oleh masyarakat Sukolilo hingga sekarang.

Diceritakan Panitia Meron Sukolilo yang digelar pada Selasa Pahing 17 September 2024 bahwa tradisi meron telah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
Kejadian tradisi meron ini sudah ada sejak tahun 1627 Masehi abad ke 17 sejak pemerintahan kasultanan Mataram. Desa Sukolilo merupakan Kademangan dibawah kekuasaan Kadipaten Pati Bupati Wasis Joyokusumo II.
Singkat cerita, saat itu sejumlah prajurit Mataram Yogyakarta melintasi wilayah Sukolilo usai berperang melawan pemberontak di Kadipaten Pati.
Mereka ingin cepat-cepat sampai ke Keraton Mataram sebelum tanggal 12 Mulud. Para prajurit ingin ikut merayakan Tradisi Sekaten. Namun, hingga tanggal 12 Maulud penanggalan Jawa, mereka masih di wilayah Sukolilo.

Para Prajurit Mataram itu pun berinisiatif menggelar tradisi serupa dengan Tradisi Sekaten. Mereka akhirnya menggelar upacara Meron. Nama tersebut mempunyai makna mempere Keraton atau sama dengan tradisi Kraton. Meron diambil dari kata bahasa Kawi Meru, yang mempunyai arti gunungan menjadi upacara dalam bentuk gunungan. Bahasa jawi Kino Meron= Merong artinya ngamuk saat peperangan.
”Tradisi ini bermula dari prajurit Mataram yang singgah usai menyerang di Pragolo Pati. Para Prajurit singgah di Sukolilo bertepatan acara maulud Nabi. Kalau di Mataram itu Sekaten kemudian mereka menggelar tradisi di sini dengan nama Meron. Mempere Kraton atau hampir sama dengan Kraton.
Semenjak itu, Tradisi Meron Sukolilo Pati pun terus dilestarikan oleh masyarakat. Mereka merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan membuat sejumlah gunungan. Gunungan Meron menjadi rebutan warga di akhir acara.
Sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda dari Kemendikbud pada tahun 2016 lalu. Tradisi ini juga ditetapkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal dari Kementerian Hukum dan HAM.
Dengan harapan kepada generasi penerus agar terus melestarikan Tradisi Meron Sukolilo Pati. Mengingat tradisi tersebut mempunyai nilai kebudayaan sekaligus sejarah. (Tim/Red)
Penulis : S.dim@n
